Friday, 6 March 2015

Hahaha...ada ada aja bu febi

Hahahaha, ada ada saja bu febi ini. Ajakan beliau tentang proyek membuat sebuah kumpulan tulisan di grup para fasilitator Sekolah Alam Jingga Lifeschool akhirnya menggoda saya untuk mengikuti ajakan tersebut. Ya, membuat tulisan yang akhirnya dirangkai menjadi sebuah buku sebenarnya sudah menjadi impian sejak zaman saya kuliah dulu, bahkan sampai sudah berkeluarga pun saya menyampaikan ini keinginan ini kepada istri saya, “Bun, abi pengen banget nih bikin buku sendiri”. Keinginan yang belum terwujud sampai sekarang walaupun berbagai macam cara sudah pernah dilakukan. Dari mulai membuat tulisan pendek, curcol tentang keseharian, maupun mencoba mengamati apa yang terjadi di lingkungan baik skala kecil maupun skala besar sudah mulai dicicil dari zaman kuliah dulu, bahkan blog awal saya buat juga ada dari zaman baheula (deuuu tua amat :D ). Taaapiii….. impian tetap jadi impian karena lagi-lagi mentok di suatu kata yang akhirnya menjadi sebuah kata kerja yaitu “MALAS”.


Saat di Jingga pun sebenarnya keinginan ini sudah pernah saya diskusikan juga kepada Bu Febi, “kapan ya bisa nulis buku sendiri?”, pengen banget nih punya buku sendiri trus diterbitin sama penerbit. Sampai-sampai saya bilang gini, “saya yang bikin kisi kisinya deh, nanti bu feb yang finishing” :D (tanpa merasa bersalah gitu ya, padahal memang gampang merekontruksi pemikiran orang lain? :D )

Pernah terlintas untuk memakai jasa “Ghostwriter” yang bisa menerjemahkan isi ide ide saya atau apapun yang ada dipikiran saya untuk menjadi sebuah tulisan (Thanks buat Film Ghostwriter yang memberi saya ide tentang ini *hadeeh )

Yang lebih unik, saya mendorong rekan saya di myQuran untuk menuliskan pengalaman beliau menjadi “mak comblang” dalam proses taaruf (perkenalan) sebagai bagian dari proses menuju pernikahan, sampai sampai saya aminin do’anya, mudah mudahan ada penerbit yang mau nerbitin :D….dan apa yang terjadi sodara sodara, ternyata doi duluan muncul bukunya yang berjudul “12 week to get married”

Sebenarnya sih kalo kemampuan nulis ya ada (walaupun sekedar penulis status fesbuk :D ), ide pun ga kehabisan karena apapun bisa dijadikan bahan tulisan. Ditambah lagi tipikal saya yang suka mengamati apapun, bahkan sampai tingkat detail, istilahnya tipe belajar saya adalah visual. Jadi intinya peluru yang dipakai untuk menjadi seorang penulis istilahnya ga akan kehabisan deh, tapiiii….lagi-lagi MALAS, dan akhirnya membuat seribu satu alasan untuk tidak melanjutkan aktifitas menulis

Nah kebiasaan MALAS menulis ini ternyata perlahan mulai goyah. Diawali dengan pelatihan fasilitator Jingga dalam hal menulis, dimana pada saat materi itu saya ikut ( walau jadi operator dan seksi sok sibuk sih :D ), dan ternyata menulis itu tidak se HOROR yang saya kira. Bu Feb pun juga menjelaskan bahwa menulis itu sebenarnya mudah kok, ga susah, ga ribet, bahkan menyenangkan disertai dengan beberapa tips untuk menemukan ide mau nulis apa , dan belajar untuk menuliskan apa yang ada didalam pikiran kita, apapun itu keluarkan saja. Memang sih saya juga sudah menyadari makin kesini ternyata “pakem” menulis itu sudah semakin cair. Bahasa yang digunakan pun di buku buku terutama buku novel dan motivasi ternyata bahasa bahasa yang “cair”. Banyak ditemukan bahasa “campuran” antara bahasa baku dan bahasa “slang”, sampai saya berpikir kalo cuma begini doang mah gampang yak ( gaya deh…..*tepokjidat), tapi lagi lagi keinginan itu maju mundur

Sempat bikin tulisan lagi untuk “mambangkik kan batang tarandam” atau dalam bahasa kerennya ialah reborn atau melahirkan kembali blog saya yang sudah mati suri ini. Bayangkan saya nulis serius terakhir adalah 2007 ( jerit histeris ). Namun lagi lagi banyak alasan yang akhirnya menjadi sebuah pemakluman dan akhirnya kembali lagi deh rasa MALAS itu timbul

Nah akhirnya singkat cerita, kembali ke paragraph awal ketika bu febi menawarkan siapa yang mau ikut proyek ini. Walaupun syaratnya berat juga sih, tiga tulisan perminggu (padahal jadwal dah padat merayap gini) .tapi ketika melihat semangat para fasilitator yang lain, akhirnya termotivasi juga nih.
Ok Bismillaah…… mudah mudahan Allaah meridhai apa yang sedang saya lakukan, mengikat ilmu, menyampaikan makna, menunjukkan eksistensi sekaligus memantaskan diri. Pada saat kita diamanahi untuk membangun batu bata peradaban maka itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Sebab menulis adalah peradaban. Peradaban suatu kaum dilihat dari apa yang dia tuliskan, dan sejarah suatu kaum atau bangsa tergantung dari apa yang ia torehkan di tinta sejarah…….


Thanks to bu feb, dan semangat buat para fasilitator SA Jingga yang lain…

1 comment: