Hahahaha, ada
ada saja bu febi ini. Ajakan beliau tentang proyek membuat sebuah kumpulan
tulisan di grup para fasilitator Sekolah Alam Jingga Lifeschool akhirnya menggoda saya
untuk mengikuti ajakan tersebut. Ya, membuat tulisan yang akhirnya dirangkai
menjadi sebuah buku sebenarnya sudah menjadi impian sejak zaman saya kuliah
dulu, bahkan sampai sudah berkeluarga pun saya menyampaikan ini keinginan ini
kepada istri saya, “Bun, abi pengen banget nih bikin buku sendiri”. Keinginan
yang belum terwujud sampai sekarang walaupun berbagai macam cara sudah pernah
dilakukan. Dari mulai membuat tulisan pendek, curcol tentang keseharian, maupun
mencoba mengamati apa yang terjadi di lingkungan baik skala kecil maupun skala
besar sudah mulai dicicil dari zaman kuliah dulu, bahkan blog awal saya buat juga ada dari
zaman baheula (deuuu tua amat :D ). Taaapiii….. impian tetap jadi impian karena
lagi-lagi mentok di suatu kata yang akhirnya menjadi sebuah kata kerja yaitu
“MALAS”.
Saat di Jingga
pun sebenarnya keinginan ini sudah pernah saya diskusikan juga kepada Bu Febi,
“kapan ya bisa nulis buku sendiri?”, pengen banget nih punya buku sendiri trus
diterbitin sama penerbit. Sampai-sampai saya bilang gini, “saya yang bikin kisi
kisinya deh, nanti bu feb yang finishing” :D (tanpa merasa bersalah gitu ya,
padahal memang gampang merekontruksi pemikiran orang lain? :D )
Pernah terlintas
untuk memakai jasa “Ghostwriter” yang bisa menerjemahkan isi ide ide saya atau
apapun yang ada dipikiran saya untuk menjadi sebuah tulisan (Thanks buat Film
Ghostwriter yang memberi saya ide tentang ini *hadeeh )
Yang lebih unik,
saya mendorong rekan saya di myQuran untuk menuliskan pengalaman beliau menjadi
“mak comblang” dalam proses taaruf (perkenalan) sebagai bagian dari proses
menuju pernikahan, sampai sampai saya aminin do’anya, mudah mudahan ada
penerbit yang mau nerbitin :D….dan apa yang terjadi sodara sodara, ternyata doi
duluan muncul bukunya yang berjudul “12 week to get married”
Sebenarnya sih
kalo kemampuan nulis ya ada (walaupun sekedar penulis status fesbuk :D ), ide
pun ga kehabisan karena apapun bisa dijadikan bahan tulisan. Ditambah lagi
tipikal saya yang suka mengamati apapun, bahkan sampai tingkat detail,
istilahnya tipe belajar saya adalah visual. Jadi intinya peluru yang dipakai
untuk menjadi seorang penulis istilahnya ga akan kehabisan deh,
tapiiii….lagi-lagi MALAS, dan akhirnya membuat seribu satu alasan untuk tidak
melanjutkan aktifitas menulis
Nah kebiasaan
MALAS menulis ini ternyata perlahan mulai goyah. Diawali dengan pelatihan
fasilitator Jingga dalam hal menulis, dimana pada saat materi itu saya ikut (
walau jadi operator dan seksi sok sibuk sih :D ), dan ternyata menulis itu
tidak se HOROR yang saya kira. Bu Feb pun juga menjelaskan bahwa menulis itu
sebenarnya mudah kok, ga susah, ga ribet, bahkan menyenangkan disertai dengan
beberapa tips untuk menemukan ide mau nulis apa , dan belajar untuk menuliskan
apa yang ada didalam pikiran kita, apapun itu keluarkan saja. Memang sih saya
juga sudah menyadari makin kesini ternyata “pakem” menulis itu sudah semakin
cair. Bahasa yang digunakan pun di buku buku terutama buku novel dan motivasi
ternyata bahasa bahasa yang “cair”. Banyak ditemukan bahasa “campuran” antara
bahasa baku dan bahasa “slang”, sampai saya berpikir kalo cuma begini doang mah
gampang yak ( gaya deh…..*tepokjidat), tapi lagi lagi keinginan itu maju mundur
Sempat bikin
tulisan lagi untuk “mambangkik kan batang tarandam” atau dalam bahasa kerennya
ialah reborn atau melahirkan kembali blog saya yang sudah mati suri ini.
Bayangkan saya nulis serius terakhir adalah 2007 ( jerit histeris ). Namun lagi
lagi banyak alasan yang akhirnya menjadi sebuah pemakluman dan akhirnya kembali
lagi deh rasa MALAS itu timbul
Nah akhirnya
singkat cerita, kembali ke paragraph awal ketika bu febi menawarkan siapa yang
mau ikut proyek ini. Walaupun syaratnya berat juga sih, tiga tulisan perminggu
(padahal jadwal dah padat merayap gini) .tapi ketika melihat semangat para
fasilitator yang lain, akhirnya termotivasi juga nih.
Ok Bismillaah……
mudah mudahan Allaah meridhai apa yang sedang saya lakukan, mengikat ilmu,
menyampaikan makna, menunjukkan eksistensi sekaligus memantaskan diri. Pada
saat kita diamanahi untuk membangun batu bata peradaban maka itu harus dimulai
dari diri kita sendiri. Sebab menulis adalah peradaban. Peradaban suatu kaum
dilihat dari apa yang dia tuliskan, dan sejarah suatu kaum atau bangsa
tergantung dari apa yang ia torehkan di tinta sejarah…….
Cie...gitu dong. panas kan Pak Isnan? hahahha
ReplyDelete