Saturday, 7 March 2015

Merubah Kebiasaan ...( it's all about sampah )

Dalam kehidupan selalu ada proses didalamnya, dalam kehidupan manusia pun proses menjadi sebuah bagian besar, mulai dari pertemuan antara sperma dan sel telur sampai akhirnya dikubur berkalang tanah. 
Begitupun dalam merubah kebiasaan, terutama merubah kebiasaan buruk atau jelek menjadi kebiasaan yang baik.
Butuh waktu dan energi yang besar untuk merubah sebuah kebiasaan. Salah satu contoh misalnya kebiasaan membuang sampah.


Di Indonesia ini salah satu kebiasaan buruk dari sebagian besar masyarakatnya. Kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya menjadi sebuah "budaya" sehingga banyak menimbulkan permasalahan yang tidak bisa dibilang kecil. Sebut saja terjadinya luapan air di kota besar sekaliber Jakarta yang merupakan display dari Indonesia. Setiap kali turun hujan walaupun dalam skala singkat maka hampir dipastikan akan muncul genangan air bahkan genangan air itu bisa menjadi luapan air dibeberapa titik tertentu. Memang ada beberapa faktor yang menjadi penyebab, tata kota yang semrawut, kurangnya lahan resapan air yang diubah menjadi hutan-hutan beton, sistem drainase yang tidak maksimal dan lain sebagainya. Namun yang paling mendasar dari faktor tersebut adalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga akhirnya menyebabkan lambatnya proses peresapan air ke dalam saluran air, atau jumlah sampah yang sangat menumpuk

Ini tak lepas dari kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Proses pelajaran dan pengajaran di sekolah serta pola asuh di rumah turut andil dalam kebiasaan ini. Tidak dibiasakannya seseorang sedari kecil untuk membuang sampah pada tempatnya serta minimnya pembiasaan di sekolah akan pentingnya hal ini menjadi hal tak terbantahkan untuk memupuk salah satu kebiasaan buruk ini. 

Pengajaran tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya tidak mendapatkan porsi yang maksimal dalam pendidikan kita. Memang ada beberapa sekolah atau institusi yang sangat memperhatikan masalah tersebut, namun itupun tidak lepas dari "kreatifitas" atau "kesadaran" dari pengelola dan pelaksana institusi tersebut. Di dalam kurikulum pun sebenarnya sudah ada bagian tentang masalah membuang sampah ini yaitu dalam bagian akhlak serta lingkungan hidup, namun praktek dilapangan sungguh sangat jauh antara panggang dengan api. Disamping juga fasilitas tempat pembuangan sampah yang boleh dibilang minim disediakan oleh pemerintah.

Padahal sebenarnya apabila diseriuskan dalam pola asuh dan pola pendidikan serta pengajaran terutama pada anak hal ini sebenarnya tidak terlalu sulit walaupun juga tidak bisa dibilang mudah. Butuh konsistensi dan butuh pembiasaan serta kesabaran dalam merubah kebiasaan buruk ini. 
Saya teringat saat zaman bersekolah di salah satu SMP Negeri di bilangan Jakarta, ada program di sekolah dan akhirnya menjadi sebuah peraturan yang sangat mendukung perubahan kebiasaan buruk ini. Program ini disebut dengan program BINA ( Bersih, Indah, Necis, Asri)

Setiap pagi sebelum bel masuk pelajaran, Kepala Sekolah sudah ada di gerbang sekolah untuk mengarahkan kepada siswa yang baru sampai ke sekolah agar mengambil sapu lidi yang sudah disediakan lalu mulai membersihkan halaman sekolah. Tidak lupa juga beliau juga menegur apabila ada siswa yang tidak berpakaian necis alias rapih.

Lalu ada juga sistem denda dimana apabila pada saat sweeping ternyata ditemukan sampah dibawah meja atau kursi maka akan dapat selembar kertas kecil dimana isinya tertera Nama, Kelas, Tanggal serta besaran nominal denda yang dikenakan. Tiga kali mendapatkan kertas tersebut maka akan masuk kedalam "buku hitam" daftar pelanggaran sekolah

Belasan tahun setelah itu dikala saya masuk dalam dunia pendidikan (tingkat SMP), tiba-tiba kenangan tersebut muncul kembali. Disaat menjaga kebersihan belum menjadi karakter pada anak-anak didik saya, akhirnya saya mencoba menerapkan apa yang saya pernah dapat dikala SMP dulu. Mulai dari memberikan pengarahan tentang pentingnya menjaga kebersihan, mencontohkan kepada mereka tentang bagaimana menjaga kebersihan dan kerapihan, sampai kepada mekanisme denda apabila ditemukan sampah dan melakukan sweeping atau razia sampah.

Awalnya memang sangat sukar, apalagi kebiasaan membuang sampah sembarangan itu sudah "mendarah daging" dalam kebiasaan mereka, namun karena semakin lama dirasa semakin berat untuk membayar denda yang ternyata kalau dikumpulkan lumayan besar juga bagi mereka ( malah lebih besar uang hasil denda dibandingkan uang kas kelas mereka..hehehe), maka akhirnya diawali dengan dipaksa, terpaksa, lalu biasa, dan akhirnya terbiasa untuk menjaga kebersihan di lingkungan sekolah . Bahkan kebiasaan tersebut mereka bawa sampai kerumah. Mereka jadi "risih" disaat mereka melihat sampah dilingkungan mereka ( mungkin karena kebiasaan di sekolah kalau ada sampah didenda akhirnya makin merasuk ke alam bawah sadar mereka hehehe...)

Yah...memang segala sesuatu itu butuh proses yang luar biasa dan terkadang butuh waktu yang lama kesabaran dan komitmen serta konsistensi ditambah dengan keteladanan dibutuhkan dalam proses merubah kebiasaan ini. Tetapi selama masih ada niat dan keyakinan bahwa ini adalah suatu hal yang penting terutama bagi generasi penerus kita, maka akan ada jalan untuk mewujudkannya.. :)





*teruntuk siswa Sekolah Alam Jingga, tetap semangat menjaga kebersihan :)


1 comment:

  1. ^_^ ini harus dibaca guru dan siswa juga ya pak Isnan

    ReplyDelete