Dalam kehidupan selalu
ada proses didalamnya, dalam kehidupan manusia pun proses menjadi sebuah bagian
besar, mulai dari pertemuan antara sperma dan sel telur sampai akhirnya dikubur
berkalang tanah.
Begitupun dalam merubah
kebiasaan, terutama merubah kebiasaan buruk atau jelek menjadi kebiasaan yang
baik.
Butuh waktu dan energi
yang besar untuk merubah sebuah kebiasaan. Salah satu contoh misalnya kebiasaan
membuang sampah.
Di Indonesia ini salah
satu kebiasaan buruk dari sebagian besar masyarakatnya. Kebiasaan membuang
sampah tidak pada tempatnya menjadi sebuah "budaya" sehingga banyak
menimbulkan permasalahan yang tidak bisa dibilang kecil. Sebut saja terjadinya
luapan air di kota besar sekaliber Jakarta yang merupakan display dari
Indonesia. Setiap kali turun hujan walaupun dalam skala singkat maka hampir
dipastikan akan muncul genangan air bahkan genangan air itu bisa menjadi luapan
air dibeberapa titik tertentu. Memang ada beberapa faktor yang menjadi
penyebab, tata kota yang semrawut, kurangnya lahan resapan air yang diubah
menjadi hutan-hutan beton, sistem drainase yang tidak
maksimal dan lain sebagainya. Namun yang paling mendasar dari faktor
tersebut adalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada
tempatnya, sehingga akhirnya menyebabkan lambatnya proses peresapan air ke
dalam saluran air, atau jumlah sampah yang sangat menumpuk
Ini tak lepas dari
kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya.
Proses pelajaran dan pengajaran di sekolah serta pola asuh di rumah turut andil
dalam kebiasaan ini. Tidak dibiasakannya seseorang sedari kecil untuk membuang
sampah pada tempatnya serta minimnya pembiasaan di sekolah akan pentingnya hal
ini menjadi hal tak terbantahkan untuk memupuk salah satu kebiasaan buruk
ini.
Pengajaran tentang
pentingnya membuang sampah pada tempatnya tidak mendapatkan porsi yang maksimal
dalam pendidikan kita. Memang ada beberapa sekolah atau institusi yang sangat
memperhatikan masalah tersebut, namun itupun tidak lepas dari
"kreatifitas" atau "kesadaran" dari pengelola dan pelaksana
institusi tersebut. Di dalam kurikulum pun sebenarnya sudah ada bagian tentang
masalah membuang sampah ini yaitu dalam bagian akhlak serta lingkungan hidup,
namun praktek dilapangan sungguh sangat jauh antara panggang dengan api.
Disamping juga fasilitas tempat pembuangan sampah yang boleh dibilang minim
disediakan oleh pemerintah.
Padahal sebenarnya
apabila diseriuskan dalam pola asuh dan pola pendidikan serta pengajaran
terutama pada anak hal ini sebenarnya tidak terlalu sulit walaupun juga tidak
bisa dibilang mudah. Butuh konsistensi dan butuh pembiasaan serta kesabaran
dalam merubah kebiasaan buruk ini.
Saya teringat saat zaman
bersekolah di salah satu SMP Negeri di bilangan Jakarta, ada program di sekolah
dan akhirnya menjadi sebuah peraturan yang sangat mendukung perubahan kebiasaan
buruk ini. Program ini disebut dengan program BINA ( Bersih, Indah, Necis,
Asri)
Setiap pagi sebelum bel
masuk pelajaran, Kepala Sekolah sudah ada di gerbang sekolah untuk mengarahkan
kepada siswa yang baru sampai ke sekolah agar mengambil sapu lidi yang sudah
disediakan lalu mulai membersihkan halaman sekolah. Tidak lupa juga beliau juga
menegur apabila ada siswa yang tidak berpakaian necis alias rapih.
Lalu ada juga sistem
denda dimana apabila pada saat sweeping ternyata ditemukan
sampah dibawah meja atau kursi maka akan dapat selembar kertas kecil dimana
isinya tertera Nama, Kelas, Tanggal serta besaran nominal denda yang dikenakan.
Tiga kali mendapatkan kertas tersebut maka akan masuk kedalam "buku
hitam" daftar pelanggaran sekolah
Belasan tahun setelah
itu dikala saya masuk dalam dunia pendidikan (tingkat SMP), tiba-tiba kenangan
tersebut muncul kembali. Disaat menjaga kebersihan belum menjadi karakter pada
anak-anak didik saya, akhirnya saya mencoba menerapkan apa yang saya pernah
dapat dikala SMP dulu. Mulai dari memberikan pengarahan tentang pentingnya
menjaga kebersihan, mencontohkan kepada mereka tentang bagaimana menjaga
kebersihan dan kerapihan, sampai kepada mekanisme denda apabila ditemukan
sampah dan melakukan sweeping atau razia sampah.
Awalnya memang sangat
sukar, apalagi kebiasaan membuang sampah sembarangan itu sudah "mendarah
daging" dalam kebiasaan mereka, namun karena semakin lama dirasa semakin
berat untuk membayar denda yang ternyata kalau dikumpulkan lumayan besar juga bagi
mereka ( malah lebih besar uang hasil denda dibandingkan uang kas kelas
mereka..hehehe), maka akhirnya diawali dengan dipaksa, terpaksa, lalu biasa,
dan akhirnya terbiasa untuk menjaga kebersihan di lingkungan sekolah . Bahkan
kebiasaan tersebut mereka bawa sampai kerumah. Mereka jadi "risih"
disaat mereka melihat sampah dilingkungan mereka ( mungkin karena kebiasaan di
sekolah kalau ada sampah didenda akhirnya makin merasuk ke alam bawah sadar
mereka hehehe...)
Yah...memang segala
sesuatu itu butuh proses yang luar biasa dan terkadang butuh waktu yang lama
kesabaran dan komitmen serta konsistensi ditambah dengan keteladanan dibutuhkan
dalam proses merubah kebiasaan ini. Tetapi selama masih ada niat dan keyakinan
bahwa ini adalah suatu hal yang penting terutama bagi generasi penerus kita,
maka akan ada jalan untuk mewujudkannya.. :)
*teruntuk siswa Sekolah Alam Jingga, tetap semangat menjaga kebersihan :)
^_^ ini harus dibaca guru dan siswa juga ya pak Isnan
ReplyDelete