Wednesday, 10 May 2006
Surga Untuk Ayah Bunda
Dalam puisiku aku pernah menulis: Aku mencintai bunda seperti aku mencintai surga.
Sebenarnya aku tak tahu seindah dan seagung apa surga itu. Tapi apa ada yang lebih indah dari surga dan cinta? Dari kitab suciku dan hadis nabi, aku tahu tak satu pun orang yang lebih tua dariku tahu apa itu surga. Sama sepertiku, mereka yakin, itulah tempat paling indah. Paling agung.
Aku selalu membayangkan tentang surga itu. Itu ada karena cinta Allah yang besar pada hambaNya. Padahal terserah Allah kan kalau Allah tidak mau memberi kita surga. Tapi yang kutahu Allah itu tidak pernah ingkar janji sih.
Aku yakin, kalau aku bisa masuk ke sana, aku bisa mendapatkan yang aku mau. Di surga mungkin aku tak perlu meminta. Kalau aku berpikir tentang pizza atau nasi kuning, maka tiba-tiba di hadapanku sudah ada deh. Sungai-sungai di surga juga banyak. Airnya bisa langsung diminum. Tinggal pilih mau minum apa: susu, soft drink atau capuccino, mocca oreo? Aku suka mocca oreo sama lemon tea.
Di surga tidak ada yang perlu mandi atau buang air. Kan semua bersih dan wangi terus tanpa harus pakai parfum. Ibu-ibu tidak usah mencuci, menyetrika atau memasak. Tidak perlu repot-repot. Pikirkan dan katakan saja. Lalu ting! Muncul deh.
Aku membayangkan surga yang bertingkat-tingkat. Yang mewahnya lebih dari apartemen manapun. Mungkin untuk anak kecil, ada lift yang terbuat dari coklat. Kalau cat coklat lift itu dicolek dan dimakan tidak apa. Nanti tumbuh lagi.
Kalau anak soleh, katanya dapat sayap. Jadi bisa terbang ke sana kemari. Menempel di dinding-dinding surga. Melihat orang-orang baik yang mukanya bercahaya semua. Aku ingin terbang mencari Nabi Muhammad dan Umar . Aku cintaaa sekali sama mereka.
Kubayangkan di surga itu ada panggung yang megah. Aku dan semua orang bisa membaca puisi puji-pujian untuk Allah. Musik di surga seperti apa ya? Pasti lebih indah daripada irama yang pernah kudengar selama ini.
Aku juga jadi ingat si Einstein. Dia membayangkan surga itu adalah perpustakaan raksasa yang dipenuhi banyak buku!.Lucu tapi keren juga. Yang pasti Allah itu Maha Hebat!
Aku ingin sekali masuk surga nanti. Sudah pasti indahnya luar biasa. Tak bisa dibayangkan sebelumnya, begitu kata Nabi. Aku pun ingin ayah bunda masuk ke sana. Nah, aku sudah tahu caranya. Aku harus jadi anak saleh. Soalnya kata Nabi, anak saleh bisa menyelamatkan ayah bunda dari api neraka.
Mengapa aku menulis: aku mencintai bunda seperti surga?
Ya karena aku cinta sekali padanya. Dan supaya aku ingat. Surga sangat mahal. Tak satu mata uang pun yang bisa membelinya. Tidak euro tidak dolar. Tidak juga uang segunung. Tiketnya hanya kesalehan. Tiketnya anak saleh. Dan ini memang susah sekali deh.
Semoga aku bisa, ya Allah. Masuk surga membawa ayah bundaku. Semoga semua orang yang kucintai, yang baik hati juga sampai ke sana. Itulah harapan, doa abadiku.
Amiin
Abdurrahman Faiz
Cinta Yang Tak Rumit dari Faiz
Apa yang menyebabkan kita menyapa atau tidak menyapa, saat bertemu seseorang? Kebanyakan kita menyapa karena kita mengenal atau minimal mengetahui seseorang itu. Bisa juga karena kita menyukai atau menghormati orang tersebut, karena memang kebiasaan, atau punya keperluan. Mungkin juga sekadar basa basi. Apa pun itu, saya belajar banyak soal ini dari seorang anak kecil yang berbeda umur 26 tahun dari saya.
Setiap hari saat berjalan kaki menuju sekolahnya yang tak begitu jauh dari rumah, Faiz akan melewati deretan panjang rumah yang ada di sekitar kami. Empat tahun yang lalu, ketika Faiz masih TK, saya takjub menyaksikan bagaimana cara ia menyapa! Semua tetangga yang kebetulan dilewati atau ditemuinya di jalan, tak akan luput dari teguran ramah disertai senyum lebar Faiz.
“Selamat pagi, Pak, selamat pagi, Bu….”
“Assalaamu’alaikum….”
“Mari Oma, mari Opa…”
“Dari mana, Tante?”
“Wah hari ini Kakak berseri sekali!”
“Mau kuliah, Bang?”
“Eh, ketemu adik cakep. Mau kemana pagi-pagi sudah rapi?”
Dan seterusnya….
Saat ia duduk di kelas
Faiz tertawa. “Tidaklah, Bunda. Aku senang karena senyum dan sapaku mungkin bukan mengawali pagiku saja. Tapi mengawali pagi orang lain. Lagipula senyum itu
Saya nyengir. Pernyataan yang unik dari anak yang waktu itu belum berumur delapan tahun. “Subhanallah. Kalau dihitung dengan uang, sedekahmu mungkin sudah milyaran,” ujar saya sambil mencium pipi Faiz yang memerah.
Setiap kali hadir pada arisan yang diadakan ibu-ibu sekitar rumah, mereka kerap membica
“Waduh, Faiz itu ramah sekali ya, Bu. Kalau bertemu saya selalu menegur lebih dulu, senyumnya manis sekali.”
“Kok bisa seperti itu sih, Bu? Bagaimana men
Saya tersenyum. Bagaimana mengatakannya? Sesungguhnya saya tak pernah men
Terbayang lagi berbagai peristiwa yang terjadi sejak Faiz mulai duduk di bangku SD.
Ketika ia ada di teras rumah, semua pengemis yang lewat selalu dipanggilnya, diajak makan dan minum. “Hari ini di rumah masak sop dan perkedel.” Atau “Bapak mau bawa kopi untuk di jalan biar tidak mengantuk? Mau teh manis dingin?” Ia akan berlari ke kamar, mengambil celengan dan mengeluarkan lembaran kertas dari
Belum lagi, semua tukang jualan, tukang sol sepatu, yang lewat pun disuruh mampir.
Maka di rumah mungil yang kami tempati, tak pernah ada hari di mana kami memasak sekadar pas untuk keluarga. Selalu ada tamu-tamu istimewa yang entah siapa. Faiz mengundang mereka secara tak terduga.
“Ikhlas yaaa, Bunda…,” katanya sambil tersenyum manis.
Lalu apakah ada lagi yang bisa saya ucapkan, meski dengan terbata? Saya hanya mampu memeluk Faiz kuat-kuat.
(Helvy Tiana Rosa) ....